TRANCE DI PUNCAK JATILUWIH

20 March 2013

Cerita Mengenang Seorang Sahabatan yang mengalami Trance.

Suatau ketika kami berjalan beriringan menuju sebuah Pura di Pinggang Gunung Batukaru. Sesekali tangan menunjuk dan merasakan perbedaan tanaman di lingkungan perkotaan dan pegunungan. Tidak hanya binatang liar menunjukan sifat khasnya. Tumbuhan juga begitu. Ada banyak ragam tumbuhan yang sejenis dengan kemiripan yang bila kurang waspada akan menipu kita. Kemiripan itu sangat susah dibedakan apabila tidak dibekali refrensi yang cukup. Tujuannya agar kita mampu membedakan yang boleh di makan, untuk obat atau yang beracun.

Tapak kaki kami 3 Km dari bawah gunung dengan jalan menanjak terasa tanpa beban hari itu. Kami mantapkan hati untuk menuju sebuah Pura yang kami yakini memberi kesuburan kepada Bumi. Sahabat kami yang adalah pemimpin kami saat itu menunjukan jiwa besarnya walaupun usianya sudah menginjak kepala 6 tetap enerjik menyusuri tanjakan. Sesekali dijelaskan pos pos yang kami lalui, karena memang beliau sering mandaki di usia mudanya.

Sekira satu setengah jam kami berjalan dihias hujan rintik walau hanya dalam detik-detik yang tak berarti itu setia mengantar pada pelataran Pura Tujuan Kami. Semua anggota kami duduk rapi sambil menunggu pemangku mengantar upakara. Tiba –tiba saja sahabat kami bergetar dan menangis. Badannya yang bergetar itu menyiratkan raganya sedang dalam kondisi trance. Kami terdiam sambil menunggu reaksi dari prosesi ini. Satu ucapan yang akami dengar adalah “ Hyang sesuhunan, ampuni hambamu ini. Hampa menghadapmu. Anugrahmu maha agung menuntun kami. Izinkan kami melakukan yadnya untuk jagat Bali, Indonesia dan Dunia. Kami yang kecil ini tak kan berarti tanpa bimbinganmu”.

Setelah tersadar, upacara doa kami lanjutkan atas tuntunan Pemangku. Dinginnya Tirta yan di siratkan kewajah dan kami minum mendamaikan perasaan. Dalam kesempatan itu kami juga melakukan penghormatan kepada Ibu Pertiwi.
Pulang kembali ke tempat semula di kaki gunung kami masih segar bugar dan melanjutkan aktivitas bersama dalam suka cita.
Dari pengalaman itu saya coba mencari jawaban peristiwa trance yang dialami sahabat kami. Menurut beliau, saat itu badanya terasa besar sekali dan ada kekuatan yang mencengkram disertai keringat . Rasanya bila tidak kuat, mungkin akan beakibat fatal. Dalam literature yang pernah saya baca, saya menduga kejadian itu adalah perwujudan dari pengaruh Sanghyang Tiga Sakti dalam Buana Agung dalam kuasa sebagai penguasa Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem dalam meresap dalam kedalam Buana Alit yang menjadi Sang Bhuta Angga Pati sebagai penguasa Ulun Suwi (pura dimaksud) yang lebih dikenal dengan I Ratu Ngurah Tangkeb Langit. Dewa nya Bedugul, dewanya sawah, dewa yang memelihara Bumi dan juga para binatang. Kalau dalam diri kita dia adalah kulit dan rembesanya adalah keringat sebagai penglukat segala kekotoran badan. Dalam kontek alam adalah pembersih dari segala kutukan para leluhur , tampak sebagai mendung, asap, kabut, tetesan embun.Ia adalah Tirta Sanjiwani. Apabila kekuatan ini merasuki badan, maka badan akan terasa besar dan berpeluh.

Begitulah keyakinan masyarakat Bali yang percaya terhadap hubungan Buana Agung dan Buana alit .
Berbahagia sekali saya dapat melihat kejadian dalam perjalanan itu.

I Ketut Punia. Sabtu, 2 Maret 2013. Puncak Luhur Jati Luwih.